Jumat, 13 November 2020

INFLASI

 1). Pengertian dan Konsep Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus. Kebalikan dari inflasi adalah deflasi yaitu kondisi ketika tingkat harga barang-barang mengalami penurunan terus menerus.

Inflasi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan harga-harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus.

Dari pengertian di atas, berarti ada tiga komponen yang menjadi indikasi kenaikan harga hingga dikategorikan sebagai inflasi, yaitu sebagai berikut:

a. Adanya kenaikan harga
b. Kenaikan harga bersifat umum
c. Berlangsungnya terus menerus

2). Penyebab Timbulnya Inflasi

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi, akan tetapi secara garis besar timbulnya inflasi disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini.

  1. Kenaikan permintaan melebihi penawaran atau di atas kemampuan berproduksi (demand pull inflation), di mana terjadi inflasi disebabkan oleh naiknya permintaan total terhadap barang dan jasa.
  2. Kenaikan biaya produksi (cost push inflation), di mana inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi, sehingga harga barang yang ditawarkan mengalami kenaikan.
  3. Meningkatnya jumlah uang yang beredar dalam masyarakat, artinya terdapat penambahan jumlah uang yang beredar, sehingga para produsen menaikkan harga barang.
  4. Adanya pencetakan uang baru oleh pemerintah sehingga menambah jumlah uang beredar. Hal ini biasanya dilakukan pemerintah untuk menutupi defisit anggaran.
  5. Berkurangnya jumlah barang di pasaran, artinya jumlah barang yang ada di pasar atau jumlah penawaran barang mengalami penurunan, sehingga jumlahnya menjadi sedikit sedangkan permintaan akan barang tersebut banyak yang berakibat harga barang naik.
  6. Adanya desakan dari golongan tertentu untuk memperoleh kredit murah sehingga akan mendorong peningkatan jumlah uang beredar dan kestabilan harga tidak terjamin.
  7. Adanya fluktuasi dari sektor luar negeri (ekspor/impor), investasi, tabungan, penerimaan dan penerimaan negara.
  8. Inflasi dari luar negeri (imported inflation), sehingga barang-barang impor mengalami kenaikan harga.
  9. Inflasi dari dalam negeri (domestic inflation), artinya meningkatnya pengeluaran pemerintah/terjadi defisit anggaran.

3). Menghitung Laju Inflasi

Untuk mengukur besarnya laju inflasi, biasanya digunakan indeks harga konsumen (IHK). Laju inflasi dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

rumus menghitung inflasi

Keterangan :
IHKt = Indeks harga konsumen periode saat ini
IHKt-1 = Indeks harga konsumen periode sebelumnya

4). Jenis-jenis Inflasi

Inflasi adalah naiknya harga-harga yang bersumber dari terganggunya keseimbangan antara arus uang dan barang, inflasi dapat dibedakan menjadi :

a) Inflasi menurut tingkat keparahan

  • Inflasi ringan <10% atau (creaping inflation), merupakan suatu gejala ekonomi yang wajar karena masih mudah dikendalikan karena wajar dan tidak menyebabkan krisis ekonomi. Inflasi ringan sering pula disebut sebagai single digit inflation atau inflasi satu digit.
  • Inflasi sedang 10% – 30% atau (moderate inflation), inflasi jenis ini belum membahaykan perekonomian, namun sudah berdampak pada penurunan tingkat kesejahteraan penduduk, terutama yang berpenghasilan tetap karena akan mengurangi daya beli.
  • Inflasi berat 30 % – 100% atau (heavy inflation). Inflasi jenis ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian. Kenaikan harga secara drastis akan mendorong masyarakat cenderung lebih suka menimbun barang. Dalam kondisi ini masyarakat enggan menabung karena bunga tabungan lebih rendah dari tingkat inflasi.
  • Inflasi sangat berat > 100% atau (hyper inflation). Inflasi jenis ini perekonomian sudah sangat kacau balau. Kebijakan fiskal maupun moneter yang ditempuh tidak mampu mengendalikan situasi. Inflasi ini bisa mencapai lebih dari 100% per tahun dan tidak hanya berdampak pada bidang ekonomi, tetapi juga bidang politik dan sosial.

b). Laju Kecepatannya

  • Inflasi lunak (wild inflation), inflasi yang kecepatannya kurang dari 5% per tahun,
  • Inflasi cepat (galloping inflation), inflasi yang kecepatannya 5% atau lebih per tahun.
  • Inflasi meroket (sky rocketing inflation) atau hiperinflasi, yaitu inflasi yang kecepatannya lebih dari 10% per tahun.

c). Cakupan Pengaruh

  • Inflasi tertutup (closed inflation), terjadi jika kenaikan harga secara umum hanya berkaitan dengan beberapa barang tertentu saja secara berkelanjutan.
  • Inflasi terbuka (open inflation) terjadi apabila kenaikan harga terjadi secara keseluruhan
  • Inflasi yang tak terkendali terjadi apabila serangan inflasi demikian hebatnya dan setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot.

d). Inflasi menurut penyebab

  • Demand pull inflation, Inflasi yang disebabkan karena kelebihan per­mintaan efektif atas barang jasa sering disebut inflasi sisi per­mintaan (demand side inflation).

deman full inflation

  • Cost push inflation, Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga barang-barang yang ditawarkan akan naik. Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dari bahan baku , harga bahan bakar atau kenaikan upah pekerja, disebut (price push inflation).

cost push inflation

  • Mixed inflation, Pada umumnya, inflasi yang terjadi di berbagai negara adalah campuran antara inflasi tekanan permintaaan (demand full inflation) dengan inflasi dorongan biaya (cost-push inflation).
  • Spiral inflation adalah kenaikan tingkat inflasi yang ter­jadi secara terus menerus, yang muncul dari interaksi antara kenaikan harga output dengan kenaikan harga input. Periode ketika inflasi dan konstraksi terjadi secara bersamaan disebut juga sengan stagflasi. Stagflasi (stagflation) adalah suatu kondisi ketika pertumbuhan ekonomi lambat, pengangguran tinggi, dan inflasi tinggi terjadi secara bersamaan.

e). Menurut asalnya : domestic inflation dan imported inflation

  • Inflasi dari Dalam Negeri (Domestic inflation). baik permintaan maupun penawaran yang disebakan adanya defisit anggaran pemerintah yang mendorog pencetakan uang, kenaikan upah pekerja dan gagal panen
  • Inflasi yang Berasal dari Luar Negeri (Imported inflation), terjadi karena pengaruh kenaikan harga barang-barang impor. Jika barang impor berasal dari negara yang mengalami inflasi, harganya menjadi semakin mahal. Kenaikan harga barang impor ini akan mempengaruhi biaya produksi bagi industri yang bahan baku atau barang modalnya impor.

5). Teori Inflasi

a) Teori Kuantitas (Irving Fisher)

Teori ini menekankan bahwa inflasi dipengaruhi oleh pertambahan jumlah uang beredar dan anggapan masyarakat terhadap kenaikan harga-harga (faktor psikologis). Menurut teori kuantitas, inflasi hanya, inflasi hanya bisa berlangsung apabila terjadi penambahan jumlah uang yang beredar. Hal ini terlihat pada rumus berikut:

Irving Fisher 1

Sehingga tingkat harga bisa dicari dengan cara jumlah uang berdar dikalikan dengan kecepatan peredaran uang dibagi dengan jumlah transaksi, seperti rumus berikut:

Irving Fisher 2

di mana:
M = Jumlah uang yang beredar
V = Kecepatan peredaran uang yaitu berapa kali uang berpindah tangan
P = Tingkat harga
T = Volume barang dan jasa yang ditransaksikan

Menurut teori kuantitas, apabila jumlah uang yang beredar atau penawaran uang (M) bertambah, maka tingkat harga umum (P) juga akan naik. Hal ini karena anggapan (asumsi) bahwa V dan T konstan atau bergerak stabil. Hubungan langsung antara P dan M seperti yang digambarkan oleh teori kuantitas uang sederhana dapat digunakan untuk menerangkan situasi inflasi.

b) Teori Keynes

Menurut Keynes, inflasi terjadi karena ada sebagian masyarakat yang ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi merupakan proses perebutan bagian rezeki di antara kelompok-kelompok sosial (pelaku-pelaku ekonomi) yang menginginkan bagian lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakat (perekonomian) tersebut. Proses perebutan ini terlihat pada keadaan di mana permintaan masyarakat terhadap barang-barang selalu melebihi jumlah barang yang tersedia. Hal ini menimbulkan celah inflasi atau inflationary gap.

Celah inflasi timbul karena golongan-golongan masyarakat berhasil mewujudkan keinginan mereka menjadi permintaan efektif (permintaan berdaya beli) terhadap barang dan jasa. Golongan masyarakat tersebut adalah pemerintah, pengusaha dan serikat pekerja. Pemerintah berusaha memperoleh pendapatan yang besar dengan cara mencetak uang baru. Pengusaha melakukan investasi denganmodal yang diperoleh dari kredit bank. Sementara itu, pekerja berusaha memperoleh kenaikan upah/gaji agar bisa lebih banyak membeli barang dan jasa. Inflasi akan terus berlangsung selama jumlah permintaan efektif dari semua golongan masyarakat tersebut melebihi output yang dihasilkan.

c) Teori Strukturalis

Teori ini memberikan perhatian besar terhadap struktur perekonomian di negara berkembang. Inflasi di negara berkembang terutama disebabkan oleh faktor-faktor struktur ekonominya. Menurut teori ini, kondisi struktur ekonomi negara berkembang yang dapat menimbulkan inflasi sebagai berikut:

  1. Ketidakelastisan penerimaan ekspor, nilai ekspor di negara berkembang tumbuh secara lamban dibandingkan pertumbuhan ektor-sektor lain.
  2. Ketidakelastisan penawaran atau produksi makanan di dalam negeri, produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan pendapatan perkapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam negeri cenderung naik sehingga melebihi kenaikan harga barang lain.  Pada akhirnya akan mendorong kenaikan upah dan harga barang lain juga ikut naik.

6). Dampak inflasi 

Inflasi yang terjadi dalam suatu negara akan sangat merugikan masyarakat atau konsumen, karena keadaan harga barang dan jasa selalu mengalami kenaikan. Inflasi akan berdampak pada  :

  1. Inflasi dapat menguntungkan produsen namun merugikan seseorang yang pendapatannya tetap karena pendapatan riil merosot,
  2. Inflasi dapat merugikan orang-orang yang berpenghasilan tidak tetap, karena kekurangan pekerjaan.
  3. Inflasi membebani dunia usaha karena biaya produksi bertambah.
  4. Inflasi merugikan pemerintah, karena mendorong deficit APBN dan cicilan utang meningkat.
  5. Inflasi mengakibat harga barang ekspor semakin mahal sehingga daya saing berkurang
  6. Inflasi mengakibatkan minat orang untuk menabung berkurang karena jumlah bunga berkurang karena inflasi
  7. Inflasi mempengaruhi kalkulasi harga pokok sehingga harga yang ditetapkan dapat terlalu kecil atau terlalu besar

7). Cara mengatasi inflasi

Tingkat inflasi yang tinggi dapat mengganggu jalannya perekonomian suatu negara. Oleh karena itu pemerintah membuat kebijakan untuk mengendalikan inflasi.

a). Kebijakan moneter

Kebijakan moneter moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang yang beredar terlalu berlebihan sehingga inflasi meningkat, Bank Indonesia akan segera menerapkan berbagai kebijakan moneter untuk mengurangi peredaran uang (kebijakan moneter kontraktif). Kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi dilakukan dengan cara berikut:

  • Operasi pasar terbuka dengan menjual surat berharga, pemerintah melalui bank sentral menjual surat berharga untuk mengurangi jumlah uang beredar, agar uang masyarakat terserap dalam bentuk surat berharga. Dalam hal ini surat berharga yang dimaksud seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN), atau Surat Berharga Pasar Uang (SBPU).
  • Diskonto dengan menaikkan suku bunga, akibatnya masyarakat cenderung menabung dan keinginan berkonsumsi berkurang. Tingkat bunga berkaitan dengan bank umum dan masyarakat, sedangkan tingkat diskonto merupakan tingkat bunga yang dikenakan pada bank umum. Kalau tingkat diskonto naik, umumnya bank umum juga akan menaikkan tingkat bunga.
  • Kebijakan persediaan kas dengan menaikan giro wajib minimum, bank sentral membuat kebijakan mengurangi jumlah uang beredar dengan jalan menetapkan jumlah minimal persediaan kas di bank-bank umum. Dengan meningkatkan persediaan kas, maka jumlah uang yang diedarkan oleh bank umum menjadi lebih sedikit.
  • Kebijakan kredit dengan cara memperketat syarat pemberian kredit. Jika bank ingin memberikan kredit, harus memperhatikan syarat-syarat yang harus dipenuhi pemohon kredit, yang dikenal dengan 5C yaitu Character, Collateral, Capital, Capacity, dan Condition of Economy. Dengan kebijakan kredit ketat ini, bank sentral bisa mengotrol jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dengan kebijakan kredit ketat ini, bank sentral bisa mengontrol jumlah uang beredar di masyarakat menjadi lebih sedikit.
  • Dorongan moral, kebijakan yang dilakukan bank sentral dengan mengeluarkan pidato, pengumuman, dan himbauan yang ditujukan pada bank umum dan pelaku ekonomi lainnya dengan tujuan mengurangi jumlah uang beredar.

b). Kebijakan fiskal

Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran pemerintah (APBN). Untuk mengendalikan inflasi, kebijakan fiskal kontraktif dilakukan pemerintah sejalan dengan kebijakan moneter kontaktif. Kebijakan fiskal kontraktif merupakan kebijakan yang bertujuan mengurangi daya beli masyarakat dalam rangka mengendalikan inflasi. Kebijakan fiskal mengendalikan inflasi dilakukan dengan cara berikut:

  • Mengurangi pengeluaran pemerintah (kebijakan defisit anggaran), diharapkan pengeluaran agregat (keseluruhan) dalam perekonomian dapat dikendalikan.
  • Menaikan tarif pajak, jika tarif pajak dinaikkan uang yang dibelanjakan oleh masyarakat akan berkurang.

c). Kebijakan non moneter dan non fiskal

Selain kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, pemerintah dapat melakukan kebijakan non moneter dan non fiskal dengan cara berikut:

  • Menaikkan hasil produksi, kebijakan ini dilakukan dengan cara menurunkan bea masuk untuk bahan baku ataupun barang jadi. Hal ini akan mengakibatkan impor barang meningkat. Pertambahan jumlah barang di dalam negeri cenderung menurunkan harga.
  • Kebijakan upah, kebijakan ini dilakukan dengan menstabilkan upah atau gaji dengan cara tidak sering dinaikkan, bisa juga menurunkan disposibel income melalui cara menaikkan pajak penghasilan.
  • Pengawasan harga dan distribusi barang, pemerintah menetapkan harga maksimum (harga eceran tertinggi/HET) dan melakukan pengamanan harga. Untuk menghindari pasar gelap pemerintah melakukan operasi pasar dan mentapkan sanksi yang cukup berat bagi pelanggar.
https://pratama1989.wordpress.com/2020/05/05/bab-4-indeks-harga-dan-inflasi/

0 komentar:

Posting Komentar