Sabtu, 14 November 2020

PASAR INPUT (PASAR FAKTOR PRODUKSI)

 Jika berbicara mengenai pasar input, kita akan melihat dua pelaku ekonomi dalam pasar. Yaitu rumah tangga dan perusahaan, keduanya saling berinteraksi dan membutuhkan. Rumah tangga memerlukan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu perusahaan membutuhkan barang dan jasa dari rumah tangga untuk proses produksi.

Barang dan jasa tersebutlah dinamakan faktor produksi atau input. Jenis input yang dibutuhkan perusahaan akan bergantung dari output yang dihasilkan. Jadi permintaan input akan muncul karena adanya permintaan barang dan jasa. Dalam ekonomi, pertemuan permintaan dan penawaran input (faktor produksi) disebut pasar input atau faktor produksi.

1. Pasar Input Tanah

Pasar input tanah atau juga disebut pasar sumber daya alam. Tanah merupakan faktor produksi yang penting dalam proses produksi, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk memperoleh tanah perusahaan harus mengeluarkan biaya atau imbalan kepada rumah tangga selaku pemilik tanah. Biaya atau imbalan yang dikeluarkan perusahaan ini merupakan sewa tanah.

Di sisi lain, jumlah tanah yang tersedia tidak dapat ditambah. Namun yang harus diingat bahwa jumlah penduduk akan terus bertambah hingga kebutuhan terhadap faktor produksi tanah juga akan bertambah. Ini berarti bahwa penawaran tanah tidak akan berubah meskipun harganya terus naik karena jumlah tanah sifatnya tetap. Kondisi ini menyebabkan penawaran tanah sifatnya inelastis sempurna.



Alasan yang mendasari munculnya harga sewa tanah? dibawah ini adalah penjelasan mengenai teori harga sewa tanah berikut ini:

a. Teori Kesuburan Asli Tanah

Menurut teori ini, harga sewa tanah tergantung dan tingkat kesuburan tanah. Jika tanah yang disewa memiliki kesuburan asli, output yang dihasilkan akan lebih besar.

b. Teori Perbedaan Kesuburan Tanah

Menurut David Ricardo, bahwa tingkat kesuburan tanah berbeda-beda. Perbedaan ini akan berpengaruh terhadap harga sewa tanah. Jika tanah memiliki kesuburan yang rendah, harga sewanya akan rendah. Sebaliknya tanah yang memiliki kesuburan yang tinggi harga sewanya akan tinggi.

c. Teori Letak Tanah

Menurut Von Thunen, seorang sarjana ekonomi Austria mengatakan bahwa perbedaan harga sewa juga dipengaruhi oleh letak tanah. Misalnya letak tanah dekat dengan fasilitas umum dan pusat kegiatan ekonomi harga sewanya tinggi.

d. Teori Harga Derivasi Tanah

Menurut teori ini, harga sewa tanah ditentukan oleh permintaan atas barang yang dihasilkan oleh tanah tersebut sebagai faktor produksi. Contohnya ketika harga cabai naik, petani akan meningkatkan hasil produksi dengan menambah lahan pertaniannya.

2. Pasar Input Tenaga Kerja

Pasar input sumber daya manusia (tenaga kerja) merupakan jumlah permintaan dan penawaran yang diperlukan untuk proses produksi.  Namun, pemanfaatan tenaga kerja akan tergantung dari luas tidaknya proses produksi. Untuk menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas juga.

a. Upah Tenaga Kerja

Upah merupakan balas yang diterima rumah tangga penyerahan dan pemanfaatan faktor produksi untuk proses produksi. Pembayaran yang diberikan dapat berbentuk uang, barang atau fasilitas umum . Pemberian upah ini mempunyai maksud agar tenaga kerja tersebut memperoleh hidup yang layak.


b. Teori Upah Tenaga Kerja

Berikut penjelasan mengenai terbentuknya harga upah tenaga kerja:

1. Teori Upah Normal

Menurut David Ricardo, teori upah normal juga disebut teori upah alami (natural wage) menyatakan bahwa upah diberikan sesuai dengan kemampuan perusahaan dan berdasarkan biaya hidup pekerja. Adanya persaingan tenaga kerja menyebabkan apa yang diberikan akan menurun.

2.  Teori Upah Besi

Menurut Ferdinand Lasale dari mazhab sosialisis bahwa untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin perusahaan akan menekan upah serendah-rendahnya. Hal ini dapat berakibat, upah pekerja hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Untuk mengatasi hal tersebut, pekerja dianjurkan untuk membentuk serikat pekerja.

3. Teori Dana Upah

Menurut john Stuart Mill tinggi rendahnya upah tergantung dari ketersediaan jumlah modal yang digunakan untuk pembayaran upah. Banyaknya penawaran tenaga kerja akan menyebabkan tingkat upah menjadi rendah, begitu juga ketika keuntungan perusahaan menurun maka tingkat upah juga akan menurun.

4. Teori Upah Etika

Menurut kaum Utopis, upah yang diterima harus bisa mendorong pekerja untuk hidup dengan layak. Selain itu, teori ini juga menganjurkan perusahaan untuk memberikan sebuah tunjangan kepada pekerjanya.


3. Pasar Input Modal

Modal merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam proses produksi. Modal tidak hanya berupa uang, tetapi juga berupa barang yang dapat digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.



a. Bunga Modal

Barang modal merupakan segala sumber daya yang diperlukan dalam kegiatan produksi atau barang hasil produksi yang dipakai sebagai sarana atau alat untuk menghasilkan barang lain. Untuk mendapatkan barang ini perusahaan membutuhkan dana sebagai Investasi. Hasil dari Investasi ini berupa bunga model atau tingkat pengembalian modal (rate of return of capital). Besarnya bunga dinyatakan dalam persentase per tahun atau tingkat suku bunga. Jadi, bunga modal merupakan balas jasa yang diterima pemilik modal atas investasi modalnya dalam kegiatan produksi.

b. Teori Bunga Modal

Berikut adalah penjelasan mengenai teori bunga modal:

1. Teori Produktivitas

Menurut Jean Baptiste Say, modal pinjaman dapat digunakan untuk usaha yang produktif. Dengan adanya tambahan modal, perusahaan dapat meningkatkan kapasitas produksinya. Kelebihan atas investasi modal tersebut diberikan kepada pemilik modal dalam bentuk bunga modal.

2. Teori Abstinence/Teori Pengorbanan

Menurut Nassau William Senior dan Marshall, bunga modal diberikan sebagai balas jasa pemilik modal atas investasi modalnya yang tidak digunakan oleh seseorang atau perusahaan lain.

3. Teori Agio

Menurut von Bohm Bawerk, balas jasa harus diberikan kepada pemilik modal atas kerugian yang disebabkan perbedaan nilai. Alasan kerugian tersebut disebabkan hal-hal berikut:

  • Alasan Ekonomi, yaitu nilai uang sekarang lebih tinggi dibandingkan satu tahun yang akan datang.
  • Psikologi, yaitu manusia beranggapan bahwa nilai kebutuhan dan alat pemuas untuk waktu yang akan datang lebih rendah.
  • Alasan Teknik, yaitu barang modal yang ada dapat digunakan untuk proses produksi selanjutnya.

4. Teori Liquidity Preference

Menurut John Maynard Keynes, bunga modal diberikan sebagai ganti rugi atas pengorbanan untuk tidak menggunakan uang liquid karena dipinjam orang lain. Hal ini dikarenakan orang lebih menggunakan uang tunai. Alasan orang menyukai uang tunai sebagai berikut:

  • Adanya motif transaksi (motive transaction) atas kebutuhan sehari-hari.
  • Motif berjaga-jaga (precautionary motive) atas kebutuhan yang tidak terduga.
  • Adanya motif spekulasi (speculation motive).

5. Teori Bunga Dinamis

Menurut Schumpeter, barang modal yang digunakan dalam proses produksi akan menghasilkan keuntungan atau laba. Sebagian dari laba tersebut diberikan sebagai bunga modal kepada pemilik modal.

4. Pasar Input Kewirausahaan

Faktor produksi kewirausahaan diperlukan dalam proses produksi. Faktor ini membutuhkan keahlian Rhesus serta memegang peranan yang penting dalam produksi sehingga faktor input seperti tanah, tenaga kerja, dan modal dapat dikelola secara efisien serta menekan kerugian seminimal mungkin.

a. Laba Wirausaha

Berhasil tidaknya perusahaan tergantung dari kemampuan wirausaha dalam mengelola perusahaan. Jika wirausaha berhasil memajukan perusahaan, maka keuntungan perusahaan meningkat. Sehingga wirausaha akan memperoleh laba sebagai imbalan jasa atas pengelolaan perusahaan. Namun, tidak selamanya perusahaan memperoleh keuntungan. Kadang perusahaan juga menderita kerugian atau bahkan mencapai titik impas.

b. Teori Laba Wirausaha

Berikut alasan yang mendasari wirausaha menerima laba antara lain:

1. Teori Inovasi

Menurut J.B.Schumpeter, untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, wirausaha harus mampu mengembangkan produk-produk baru atau melakukan inovasi atas produk yang dihasilkan.

2. Teori Nilai Lebih

Menurut Karl Marx, laba yang diperoleh wirausaha disebabkan pekerja dibayar dengan upah yang rendah dibandingkan dengan jasa yang diberikan pekerja ke perusahaan. Wirausaha akan menerima laba dari selisih upah yang seharusnya dibayarkan dengan upah yang diterima pekerja.

3. Teori Keuntungan

Menurut Jean Baptiste Say, wirausaha bertugas mengelola perusahaan sehingga memperoleh upah. Jika wirausaha berinvestasi modal di perusahaan, ia akan memperoleh bunga modal.

4. Teori Risiko Usaha

Menurut Hawley, wirausaha juga menanggung risiko atas pengelolaan usahanya terutama risiko menderita kerugian jika usahanya gagal. Oleh karena itu, wirausaha juga berhak mendapatkan laba

5. Teori Residu

Menurut David Ricardo, wirausaha akan memperoleh laba atau keuntungan atas selisih dan pendapatan total dikurangi biaya total. Selisih inilah yang merupakan kelebihan pendapatan dan akan diterima wirausaha.

c. Unsur-Unsur Laba Wirausaha

Unsur-unsur yang terdapat didalam laba wirausaha dijelaskan sebagai berikut:

  1. Upah wirausaha diterima wirausaha atas kemampuannya mengelola perusahaan.
  2. Bunga modal diterima wirausaha jika ia menginvestasikan modal di perusahaan.
  3. Sewa tanah diterima wirausaha jika ia juga merupakan pemilik tempat usaha.
  4. Premi risiko diterima wirausaha karena kemungkinan risiko usaha yang akan dihadapi jika perusahaan menderita kerugian
Materi lengkap :

Bentuk-bentuk Pasar dalam Kegiatan Ekonomi Masyarakat

pasar adalah suatu mekanisme yang mempertemukan pembeli (konsumen) dengan penjual (produsen) sehingga keduanya dapat berinteraksi untuk membentuk suatu kesepakatan harga.

Dalam kehidupan sehari-hari, pasar tentunya sangat penting. Karena pasar memiliki fungsi sebagai berikut.

1. Pembentukan nilai harga

Pasar berfungsi untuk pembentukan harga (nilai) karena pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang kemudian saling menawar dan akhirnya membuat kesepakatan suatu harga. Harga atau nilai ini merupakan suatu hasil dari proses jual beli yang dilakukan di pasar.

2. Pendistribusian

Pasar mempermudah produsen untuk mendistribusikan barang dengan para konsumen secara langsung. Pendistribusian barang dari produsen ke konsumen akan berjalan lancar apabila pasar berfungsi dengan baik.

3. Promosi

Pasar merupakan tempat yang paling cocok bagi produsen untuk memperkenalkan (mempromosikan) produk-produknya kepada konsumen. Karena pasar akan selalu dikunjungi oleh banyak orang, meskipun tidak diundang.

Macam-macam Pasar Output

1. Pasar Menurut Bentuk

a. Pasar Persaingan Sempurna (Perfect Competition)

Pasar persaingan sempurna adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh jumlah produsen dan konsumen sangat banyak dan hampir tidak terbatas.

Ciri-ciri pokok pasar persaingan sempurna adalah sebagai berikut.

1. Terdapat banyak sekali penjual (perusahaan) dan pembeli Karena terdapat banyak sekali penjual dan pembeli, masing-masing tidak dapat menentukan harga (price taker). Harga terbentuk dengan kesepakatan antara kedua belah pihak (mekanisme pasar).

2. Produk-produk homogen (persis sama)

Barang yang dihasilkan oleh para produsen homogen, persis sama baik dalam bentuk, warna, kualitas, dan lain-lain sehingga produk yang satu merupakan substitusi yang sempurna bagi produk dari produsen yang lain.

3. Bebas keluar masuk pasar

Dalam pasar persaingan sempurna baik penjual maupun pembeli bebas untuk keluar masuk pasar, tidak ada aturan tertentu yang membatasi hal tersebut. Karena dengan adanya batasan dan hambatan akan mengurangi persaingan.

4. Penjual dan pembeli mengetahui kondisi pasar secara sempurna

Masing-masing penjual maupun pembeli dapat memperoleh informasi dengan cepat dan tepat tentang perubahan harga dan produk sehingga masing-masing tidak dapat menjadi penentu harga.

5. Faktor-faktor produksi bergerak bebas

Faktor-faktor produksi bergerak bebas tidak dikuasai oleh salah satu atau beberapa produsen saja sehingga tidak ada pihak yang dapat menentukan harga secara sepihak.

6. Tidak ada campur tangan pemerintah

Adanya campur tangan pemerintah akan menimbulkan batasanbatasan dan hambatan untuk terbentuknya persaingan sempurna.

Konsekuensi dari ciri-ciri persaingan sempurna adalah sebagai berikut.

1. Masing-masing penjual hanya berperan sebagai price taker (penerima harga).

2. Kurva permintaan yang dihadapi oleh setiap penjual secara individual berbeda dengan kurva permintaan pasar. Permintaan pasar berslop negatif (menurun), sedangkan kurva permintaan yang dihadapi horizontal.

3. Produsen tidak terlalu bersaing satu sama lain karena adanya homogenitas produk dan banyaknya produsen.

4. Barang yang ditawarkan penjual akan laku berapa pun jumlahnya tanpa mengalami penurunan harga.

Kebaikan pasar persaingan sempurna adalah sebagai berikut.

1. Pada pasar persaingan sempurna tidak tampak kegiatan saling menyaingi antarpenjual.

2. Penjual tidak mungkin mengadakan persaingan harga dengan maksud merebut pasar karena harga pasar adalah suatu yang harus diterima masing-masing produsen.

3. Barang yang ditawarkan penjual akan laku berapa pun jumlahnya tanpa mengalami penurunan harga.

4. Tidak mungkin mengubah bentuk barang untuk merebut pasar karena adanya homogenitas barang.

5. Informasi tentang pasar telah diketahui oleh saingan usaha dan usaha untuk menyaingi perusahaan lainnya juga tidak menghasilkan apa-apa karena jumlah saingan sangat tidak terbatas.

6. Konsumen tidak perlu beradu tegang tentang tawar-menawar harga barang karena harga tidak dapat dipengaruhi oleh siapa pun.

Kelemahan pasar persaingan sempurna adalah sebagai berikut.

1. Pasar persaingan sempurna sulit dijumpai, sebab:

a. homogenitas barang sulit dilaksanakan sebab konsumen lebih sering datang ke pasar yang heterogen (banyak pilihan alternatif);

b. harga tidak dapat ditawar-tawar lagi.

2. Adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan informasi menyebabkan kemajuan dalam kualitas dan kuantitas serta jenis yang memaksa adanya persaingan produk antarprodusen.

3. Keuntungan maksimum yang diperoleh pedagang sudah dapat diprediksi sejak awal karena harga tidak dapat dipengaruhi oleh pedagang.

4. Pasar gelap (black market) dapat muncul sewaktu-waktu. 

Penentuan harga dan jumlah barang pada pasar persaingan sempurna Dalam model persaingan sempurna dapat dibedakan antara perusahaan secara individu dan perusahaan sebagai suatu industri yaitu kumpulan perusahaan yang sejenis. Kurva permintaan yang dihadapi sebuah perusahaan berbentuk garis lurus horizontal karena berapa pun permintaan harga tetap sesuai dengan kesepakatan. Namun, kurva permintaan bagi industri (pasar) tetap berbentuk normal yaitu menurun dari kiri atas ke kanan bawah.

Dalam jangka pendek perusahaan-perusahaan mungkin dapat memperoleh keuntungan lebih
besar daripada keuntungan normal, atau memperoleh kurang dari keuntungan normal (mengalami
kerugian). Keuntungan normal adalah jumlah keuntungan yang dianggap cukup tinggi oleh perusahaan - perusahaan yang sudah ada sehingga mereka ingin tetap tinggal dalam industri. Akan tetapi, keuntungan tersebut masih dianggap rendah bagi perusahaan-perusahaan yang ada di luar industri sehingga mereka tidak ingin masuk.
Posisi keseimbangan perusahaan jangka pendek terjadi jika keuntungan perusahaan maksimum atau kerugiannya minimum. Seorang produsen akan memperoleh keuntungan atau kerugian maksimum jika tingkat output (Q) yang dihasilkan memiliki selisih antara Penerimaan Total (TR) dan Biaya Total (TC) yang terbesar yaitu pada saat Penerimaan Marginal (MR) sama dengan Biaya Marginal (MC) atau pada posisi MC = MR. Di mana terjadi laba apabila AR > AC, dan rugi ketika AR < AC.
Dalam kurva dapat kita lihat bahwa P = AR = MR = D adalah kurva yang sejajar dengan garis horizontal (sumbu Q) hal ini karena harga terbentuk oleh mekanisme pasar maka penjual, pembeli, atau pemerintah tidak dapat memengaruhi pasar.
Pada jangka panjang perusahaan-perusahaan dalam pasar persaingan sempurna akan mendapat keuntungan normal saja sebab pada saat perusahaan-perusahaan dalam pasar persaingan sempurna memperoleh keuntungan lebih (super normal), perusahaan-perusahaan lain di luar pasar akan segera masuk sehingga menambah penawaran yang menyebabkan keuntungan kembali normal.

b. Pasar Persaingan Tidak Sempurna
Pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar yang jumlah penjual dan pembeli tidak sebanding atau tidak seimbang. Kemungkinan yang terjadi adalah pasar dikuasai oleh satu penjual atau beberapa penjual, sedangkan pembelinya juga satu atau beberapa pembeli yang menguasai pasar. Bentuk-bentuk pasar persaingan tidak sempurna adalah sebagai berikut.
1. Monopoli
Monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh hanya ada satu penjual/produsen di pasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli/konsumen. Sebab-sebab tumbuhnya monopoli adalah sebagai berikut.
a. Adanya perlindungan hukum, yaitu diperolehnya hak paten untuk suatu produk.
b. Pemberian lisensi oleh pemerintah untuk berusaha secara tunggal.
c. Memiliki modal yang sangat besar sehingga tidak dapat disaingi oleh perusahaan lainnya.
d. Menguasai bahan mentah yang cukup strategis.
e. Produk diperoleh secara alamiah karena sangat digemari konsumen.
f. Pasar tidak luas hanya ada satu penjual yang dapat melayani konsumen secara optimal.

Ciri-ciri pasar monopoli adalah sebagai berikut.

1. Hanya ada satu penjual dan banyak pembeli.

2. Tidak ada perusahaan yang dapat membuat barang substitusi yang sempurna.

3. Rintangan cukup kuat untuk masuk ke pasar monopoli, baik dari segi penguasaan sumber daya alam, biaya produksi yang tidak efesiensi hingga peraturan dari pemerintah.

4. Pembeli tidak ada pilihan lain dalam membeli barang.

5. Keuntungan hanya terpusat pada satu perusahaan.

Kelebihan pasar monopoli adalah sebagai berikut.

1. Keuntungan penjual cukup tinggi.

2. Untuk produk yang menguasai hajat hidup orang biasanya diatur pemerintah.

Kelemahan pasar monopoli adalah sebagai berikut.

1. Pembeli tidak ada pilihan lain untuk membeli barang.

2. Keuntungan hanya terpusat pada satu perusahaan.

3. Terjadi eksploitasi pembeli.

Harga pada pasar monopoli

Pada pasar monopoli kurva permintaan yang dihadapi juga merupakan kurva permintaan pasar. Hal ini terjadi karena perusahaan merupakan satu-satunya produsen di pasar.

Berikut ini merupakan kurva yang menunjukan perolehan laba atau rugi pada pasar monopoli.


Kurva tersebut menunjukkan kurva permintaan (D) pada pasar monopoli, di mana kurva di bawahnya adalah kurva Marginal Revenue (MR) atau MR < AR. Hal ini terjadi karena produsen adalah penentu harga (price maker) karena konsumen tidak memiliki alternatif produsen lain. Walaupun demikian pada pasar monopoli harga harus lebih rendah untuk dapat menjual jumlah barang yang lebih banyak.

Seperti pada pasar persaingan sempurna, keuntungan maksimum atau kerugian minimum dapat dicapai jika monopolis berproduksi pada tingkat di mana MC = MR. Perusahaan-perusahaan monopoli tidak selalu memperoleh keuntungan monopoli (keuntungan lebih). Ia juga dapat menderita rugi dalam jangka pendek. Jika dia rugi dalam jangka panjang, dia akan meninggalkan pasar.

2. Pasar Oligopoli

Pasar Oligopoli adalah suatu bentuk interaksi permintaan dengan penawaran di mana terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai seluruh permintaan pasar.

Ciri-ciri pasar oligopoli adalah sebagai berikut.

a. Terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai pasar.

b. Barang yang diperjualbelikan dapat homogen dapat pula berbeda corak (differentiated product).

c. Terdapat halangan masuk yang cukup kuat bagi perusahaan di luar pasar untuk masuk ke dalam pasar.

d. Satu di antara oligopoli merupakan market leader, yaitu penjual yang memiliki pangsa pasar yang terbesar.

Oligopoli terdiri dari dua macam, yaitu sebagai berikut.

1. Oligopoli murni (pure oligopol ) yang ditandai beberapa perusahaan menjual produk homogen.

2. Oligopoli dengan pembedaan (differentiated oligopol ) yang ditandai beberapa perusahaan menjual produk yang dapat dibedakan.

Dampak negatif oligopoli terhadap perekonomian adalah sebagai berikut.

a. Keuntungan yang terlalu besar bagi produsen dalam jangka panjang.

b. Timbul inefisiensi produksi.

c. Eksploitasi terhadap konsumen dan karyawan perusahaan.

d. Harga tinggi yang relatif stabil (sulit turun) menunjang munculnya inflasi yang kronis.

Kebijakan dalam mengatasi oligopoli adalah sebagai berikut.

1. Pemerintah mempermudah masuknya perusahaan baru ke dalam pasar untuk menciptakan persaingan.

2. Diberlakukannya undang-undang antikerja sama antarprodusen.

Harga pada pasar oligopoli

Pada pasar oligopoli harga ditentukan oleh produsen karena konsumen memiliki sedikit alternatif dalam memilih kemungkinan pada siapa dia melakukan pembelian. Karena hanya ada beberapa produsen, kemungkinan saling mengenal antara produsen besar sekali dan enggan untuk bersaing sehingga harga tidak mudah berubah. Namun, apabila ada perusahaan menurunkan harga dengan maksud untuk memperluas pangsa pasarnya, perusahaan lain akan memberikan reaksi berupa penurunan harga pula agar konsumennya tidak berpindah ke perusahaan lain. Akibatnya, terjadi perang harga yang akan merugikan masing-masing oligopolis.


3. Pasar Persaingan Monopolistik

Pasar persaingan monopolistik adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang di dalamnya terdapat sejumlah besar penjual/produsen yang menawarkan barang yang sama, tetapi masing-masing memiliki ciri-ciri khusus.

Ciri-ciri pasar persaingan monopolistik adalah sebagai berikut.

1. Terdapat banyak penjual/produsen di pasar.

2. Barang yang diperjualbelikan merupakan differentiated product.

3. Para penjual memiliki kekuatan monopolis atas barang produksinya sendiri. Oleh karena itu, harus memperhitungkan persaingan dengan barang-barang lain yang sama, tetapi berbeda corak.

4. Untuk memenangkan persaingan, setiap penjual/produsen aktif melakukan promosi iklan.

5. Keluar masuk pasar relatif mudah dibandingkan dengan pasar oligopoli.

6. Jumlah perusahaan sangat kecil dibandingkan dengan output total.

Kelebihan pasar persaingan monopolistik adalah sebagai berikut.

1. Penjual tidak sebanyak pasar persaingan sempurna.

2. Produsen terpacu untuk berkreativitas.

3. Pembeli tidak mudah berpindah dari produk yang dipakai selama ini.

Kelemahan pasar persaingan monopolistik adalah sebagai berikut.

1. Biaya mahal untuk ke pasar monopolistik karena untuk masuk pangsa pasar tertentu dibutuhkan riset dan pengembangan produk.

2. Persaingan sangat berat karena pasar biasanya didominasi oleh produk-produk yang telah ternama.

4. Pasar Monopsoni

Pasar monopsoni adalah suatu bentuk pasar yang dikuasai oleh suatu orang/badan/lembaga pembeli dengan penawaran dari sejumlah penjual/produsen.

5. Pasar Oligopsoni

Pasar oligopsoni adalah suatu bentu pasar yang dikuasai oleh lebih dari dua orang pembeli dengan penawaran dari sejumlah penjual/produsen.

Sri Nur Mulyani, Agus Mahfudz, Leni Permana. 2009.  Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengah        Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

Jumat, 13 November 2020

FUNGSI BIAYA DAN PENERIMAAN

 1.         Fungsi Biaya

Biaya atau ongkos pengertian secara ekonomis merupakan beban yang harus dibayar produsen untuk menghasilkan barang dan jasa  sampai barang tersebut siap untuk dikonsumsi . Biaya merupakan fungsi dari jumlah produksi, dengan keluaran, notasi C = f(Q).

C = biaya total

Q = jumlah produksi.

Fungsi biaya merupakan hubungan antara biaya dengan jumlah produksi yang dihasilkan, fungsi biaya dapat digambarkan ke dalam kurva dan kurva biaya menggambarkan titik-titik kemungkinan bsarnya biaya di berbagai tingkat produksi. Selain Pengertian biaya tetap, biaya variable dan biaya total, dalam konsep biaya dikenal pula pengertian biaya rata-rata (average cost) dan biaya marginal (marginal cost). Biaya rata-rata adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan tiap unit produk atau keluaran , merupakan hasilbagi biaya total terhadap jumlah keluaran yang dihasilkan. Adapun biaya marginal ialah biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit tambahan produk.

Dalam membicarakan biaya ada beberapa macam biaya, yaitu:



a. Biaya Total ( Total Cost = TC = C)

Biaya total yaitu keseluruhan biaya produksi yang digunakan untuk menghasilkan sejumlah output tertentu baik yang bersifat tetap maupun variabel.

TC = TFC + TVC

 b. Biaya Variabel (Variable Cost = VC)

Biaya variabel (Zulkifli; 2003, 34) adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan, namun biaya per unitnya tetap. Artinya, jika volume kegiatan diperbesar 2 (dua) kali lipat,maka total biaya juga menjadi 2 (dua) kali lipat dari jumlah semula.

Biaya variabel yaitu keseluruhan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh faktor produksi yang bersifat variabel. Misalnya biaya tenaga kerja, pembelian bahan baku, bahan penolong dll

 c. Biaya Tetap (Fixed Cost = FC)

Biaya tetap (Zulkifli; 2003, 34) adalah biaya yang jumlahnya sampai tingkat kegiatan tertentu relatif tetap dan tidak terpengaruh oleh perubahan volume kegiatan. Biaya tetap yaitu keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor produksi yang bersifat tetap. Contoh: pembelian mesin, bangunan dll

d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost = AC)

Biaya total rata-rata yaitu biaya diproduksi yang diperhitungkan untuk setiap unit output.

 Average Total cost (ATC) = AVC + AF

e. Biaya Variabel Rata Rata ( Average Variable Cost = AVC)

Biaya variable rata-rata yaitu biaya variabel yang dibebankan kepada kepada setiap unit output.

AVC = TVC / Q

f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost = AFC)

Biaya tetap rata-rata yaitu biaya tetap yang dibebankan kepada satu unit output

Average Fixed cost (AFC) = TFC / Q

g. Biaya Marginal

Biaya marginal per unit output (MC) adalah perubahan biaya total yang  berkaitan dengan perubahan satu unit dari input.



Contoh Soal 1:
Biaya marjinal suatu perusahaan ditunjukkan oleh : MC = 3Q2 – 6Q + 4 Carilah persamaan biaya total dan biaya rata-ratanya!
Jawab:
a)             Biaya Total (TC) 
TC  = ∫ MC d Q
= ∫ (3Q2 – 6Q + 4) dQ
TC =  Q3 - 3Q2 + 4Q

b)             Biaya rata-rata (AC)
AC = 
 =  Q3 - 3Q2 + 4Q
                 Q

AC =  Q2 – 3Q + 4 
 Contoh Soal 2:
Ada banyak perusahaan besar dalam suatu industry, masing-masing dengan fungsi Biaya Total: TC = 36 + 8Q + Q2 Hitung biaya marginal (MC), biaya rata - rata (AC), dan biaya variable rata-rata (AVC) untuk tiap perusahaan?
Jawab:
Diket :    TC  = 36 + 8Q + Q2
Tanya :  MC  = ..........?
                AC  = ..........?
               AVC = ..........?


Jawab :
MC = dTC/dQ = 8 + 2Q
AC = TC/Q =   =  + 8 + Q
Dengan : TC = TFC + TVC,
 Jika : TC = 36 + 8Q + Q2, maka : TFC = 36 dan TVC = 8Q + Q2
AVC =   =  
AVC = 8 + Q
Contoh 3:
Biaya tetap yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan sebesar Rp 20.000 sedangkan biaya variabelnya ditunjukkan oleh persamaan VC = 100Q. Tunjukkan persamaan dan kurva biaya totalnya! Berapa biaya total yang dikeluarkan jika perusahaan tersebut memproduksi 500 unit barang?
Jawab:
FC = 20.000
VC = 100Q
TC = FC + VC → TC = 20.000 +  100Q
Jika Q = 500, TC = 20.000 + 100(500) = 70.000

2.         Fungsi Penerimaan

Penerimaan hasil penjualan merupakan  fungsi dari jumlah barang yang terjual. Penerimaan total ( total revenue ) adalah hasil kali jumlah barang yang terjual dengan harga jual perunit.

Penerimaan umumnya bersifat linier, karena tidak ada alasan mengapa penerimaan menurun bila produksi meningkat, kecuali bila harga jual menurun karena produksi meningkat (teori penawaran).

Bentuk fungsi penerimaan total (total revenue, R) yang non- linier pada umumnya berupa sebuah persamaan parabola terbuka kebawah. Ini merupakan bentuk fungsi penerimaaanyang lazim dihadapi oleh seorang produsen yang beroperasi di pasar monopoli. Sedangkan fungsi penerimaan total yang linier, merupakan fungsi penerimaan yang dihadapi oleh seorang produsen yang beroperasi di pasar persaingan sempurna.

            Penerimaan total merupakan fungsi dari jumlah barang, juga merupakan hasil kali jumlah barang dengan harga barang per unit. Seperti halnyadalam konsep biaya, dalam konsep penerimaan pun dikenal pengertian rata-rata dan marjinal. Penerimaan rata-rata (average revenue, AR) ialah penerimaan yang diperoleh per unit barang, merupakan hasil bagi penerimaan total terhadap jumlah barang. Penerimaan marjinal (marjinal revenue, MR) ialah penerimaan tambahan yang diperoleh dari setiap tambahan satu unit barang yang dihasilkan atau terjual.

Dalam menganalisa biaya umumnya tidak terlepas dari analisa penerimaan atau revenue atau total revenue. Pengertian revenue atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diterima dari hasil penjualan barang pada tingkat harga tertentu. Secara matematik total revenue dirumuskan sebagai berikut:

•           TR = P X Q.     

 TR = Penerimaan Total

 P = Harga Barang

Q = Jumlah barang yang dijual.

Penerimaan Rata-rata (AR) adalah penerimaan rata-rata tiap unit produksi, dapat dirumuskan :

•           AR = TR/Q

Penerimaan Marginal atau Marginal Revenue adalah tambahan penerimaan sebagai akibat dari tambahan produksi, dirumuskan

•           MR = ∆TR/∆Q     atau  turunan dari TR

   MR = Marginal Revenue

 ∆TR = Tambahan penerimaan

  ∆Q = Tambahan Produksi

Contoh 1:
Carilah persamaan penerimaan total dari penerimaan rata-rata dari perusahaan jika penerimaan marjinalnya : MR = 16 – 4Q
Penerimaan Total  :  TR  =  ∫ MR dQ
                                        =  ∫ (16 – 4Q) dQ
                                     TR  =  16Q – 2Q2
Penerimaan rata-rata  :  AR  = 16 - 2Q
Dalam persamaan penerimaan total konstanta k = 0, sebab penerimaan akan ada jika ada barang yang dihasilkan atau terjual.
Contoh 2:
Harga jual produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan Rp 200,00 per unit. Tunjukkan persamaan dan kurva penerimaan total perusahaan ini. Berapa besar penerimaannya bila terjual barang sebanyak 350 unit?
Jawab :
TR = P x Q
      = 200 x Q= 200Q
Bila Q = 350 → TR = 200 (350)  = 70.000

Berdasarkan konsep penerimaan dan biaya (TR dan TC)  dapat diketahui beberapa kemungkinan diantaranya :

TR >TC  = keadaan untung / laba

TR= TC   = keadaan  Break Even Point

TR < TC  = Keadaan rugi

Analisis Pulang Pokok (break-even) yaitu suatu konsep yang digunakan untuk menganalisis jumlah minimum produk yang harus dihasilkan atau terjual agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Keadaan pulang pokok (profit nol, π = 0 ) terjadi apabila TR = TC ; perusahaan tidak memperoleh keuntungan tetapi tidak pula menderita kerugian.
Pengertian BEP: Break Even Point  / Titik Pulang Pokok
Merupakan titik keseimbangan antara jumlah hasil penjualan dengan jumlah biaya produksi. Analisis ini digunakan untuk mencari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume penjualan.
Unsur-unsur perhitungan Titip pulang pokok sebagai berikut:
1)        Penggolongan biaya perusahaan menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
2)        Besarnya biaya variabel secara total berubah-ubah sebanding dengan volume penjualan.
3)        Besarnya biaya tetap tidak berubah.
4)        Analisis harga jual per unit tidak berubah.
5)        Perusahaan hanya memproduksi satu macam produk
Cara menghitung BEP
Dengan asumsi Pendapatan Total (TR) adalah sama dengan Biaya total (TC) maka perhitungan BEP berdasarkan unit dapat diturunkan melalui turunan rumus berikut :
 TR    =  TC
P.Q =  TFC + VC.Q
P.Q – VC.Q =  TFC
  (P – VC)Q  =  TFC
Q    = 
a)        BEP unit:
  Q =
Dimana :
  TR  = Pendapatan total (Total Revenue)
  P     = Harga Per Unit (jual)
  Q    = Jumlah Unit
  TC  = Biaya total (Total Cost)
  TFC        = Biaya tetap total (Total Fix Cost)
  VC  = Biaya variabel per unit (produksi)
b)        BEP Rupiah
BEP rupiah =
Dimana:
TFC        = Biaya Tetap
   P    = Harga jual per unit
  VC = Biaya Variabel per unit

Keuntungan  / Profit
            Biaya atau ongkos pengertian secara ekonomis merupakan beban yang harus dibayar produsen untuk menghasilkan barang dan jasa  sampai barang tersebut siap untuk dikonsumsi .
Biaya merupakan fungsi dari jumlah produksi, dengan notasi :
TC = f(Q)
Dimana :
                 TC = biaya total
                 Q = jumlah produksi.
            Dalam menganalisa biaya umumnya tidak terlepas dari analisa penerimaan atau revenue atau total revenue. Pengertian revenue atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diterima dari hasil penjualan barang pada tingkat harga tertentu.
Secara matematik penerimaan / Total Revenue dirumuskan sebagai berikut:

*  TR = P x Q      
    TR = Penerimaan Total
       P = Harga Barang
       Q = Jumlah barang yang dijual.
*  Penerimaan Rata-rata (AR) adalah penerimaan rata-rata tiap unit             produksi, dapat dirumuskan :  AR = TR/Q
*  Penerimaan Marginal atau Marginal Revenue adalah tambahan penerimaan sebagai akibat dari tambahan produksi, yang dirumuskan : MR = ∆TR/∆Q  atau  turunan dari TR
MR = Marginal Revenue,  ∆TR = Tambahan penerimaan, 
∆Q = Tambahan Produksi. Berdasarkan konsep penerimaan dan biaya (TR dan TC)  dapat diketahui beberapa kemungkinan diantaranya :
TR > TC  =  keadaan untung / laba
TR = TC  =  keadaan  Break Even Point (BEP)
TR < TC  =  Keadaan rugi.


Contoh Soal 1:
Sebuah pabrik Sandal dengan Merk " Idaman" mempunyai biaya tetap (FC) = 1.000.000; biaya untuk membuat sebuah sandal Rp 500; apabila sandal tersebut dijual dengan harga Rp 1.000, maka:
Ditanya:
a.   Fungsi biaya total (TC), fungsi penerimaan total ( TR) dan Variable Cost.
b.   Pada saat kapan pabrik sandal mencapai BEP
c.   Untung atau rugikah apabila memproduksi 9.000 unit

Jawab:
a.    FC = Rp 1.000.000
       VC= Rp 500.
       Fungsi biaya variabel : VC = 500Q   ..........................................……........(1)
       Fungsi biaya total:  TC = FC + VC  ----->TC = 1.000.000 + 500Q .…......(2)
       Fungsi penerimaan total : TR = P.Q -----> TR = 1.000 Q ..........................(3)

b.   Break Even Point terjadi pada saat : TR = TC
      1.000 Q  = Rp 1.000.000 + 500 Q
      1.000 Q - 500 Q = 1.000.000
                      500 Q = 1.000.000
                             Q = 2.000 unit

       Pabrik sandal akan  mengalami BEP pada saat Q = 2.000 unit
       Pada biaya total  TC = 1.000.000 + 500 ( 2.000)
                                   TC = 2.000.000

c.    Pada saat memproduksi Q = 9.000 unit
       TR = P.Q
             = 1.000  X  9.000
       TR = 9.000.000

       TC = 1.000.000 + 500 (Q)
                      = 1.000.000 + 500 ( 9.000)
                      = 1.000.000 + 4.500.000
       TC          = 5.500.000

      Bila  TR > TC, maka keadaan laba / untung.
      Laba = TR - TC
                = 9.000.000 - 5.500.000
                = 3.500.000
Bila hanya memproduksi 1.500 unit maka akan mengalami kerugian    sebesar :
        Rugi        = TR - TC
                 = 1.000 (1.500)  - 1.000.000 + 500 ( 1.500)
                 = 1.500.000 - 1.750.000
                 = - 250.000
Contoh Soal 2:
Andaikan biaya total yang dikeluarkan perusahaan ditunjukkan oleh persamaan : TC = 20.000 + 100Q sedangkan penerimaan totalnya : TR = 200Q. Pada tingkat berapa perusahaan mengalami pulang pokok? Apa yang terjadi jika perusahaan memproduksi 150 unit ?
Jawab:
BEP : TR = TC
TR  =  200Q                                               
TC  =  20.000 + 100Q                                
TR  =  TC    
200Q = 20.000 + 100Q                                                
100Q  =  20.000                                          
        Q  =  200     
Jika Q = 150, maka perusahaan akan mengalami kerugian. Besarnya kerugian adalah :
TC     =  20.000 + 100Q                                
          =  20.000 + 100(150)
TC    =  35.000 
TR  =  200Q
       =  200 (150)
TR  = 30.000  
Karena TC > TR, maka perusahaan mengalami kerugian sebesar : Rp 5.000